Newest Post

Fregat kelas Gepard 3.9

Kapal ini bermula dari rancangan Biro Perancang Kapal Zelenodolsk (ZPKB) di Tatarstan, Rusia untuk mengembangkan kapal fregat bagi Angkatan Laut Rusia dengan nama project 1166.1 yang berlangsung pada tahun 1998. Kapal pertama Tatarstan (SKR-691) bergabung dengan Angkatan Laut Rusia pada tahun 2002. Setelah itu versi ekport dimunculkan dengan nama Gepard 3.9.

Kapal dengan bobot penuh 2.100 ton dan panjang total 102 m ini memakai sistim penggerak tipe CODOG (combination diesel or gas turbine) yang dapat menghantarkan kapal melaju dengan kecepatan maksimal 28 knot dan kecepatan jelajah 18 knot. 

Fregat ini dilengkapi radar Pozitiv-ME1 (antenanya berbasis tehnologi phased array) jenis air/surface target acquisition radar yang mampu melacak keberadaan semua jenis sasaran di permukaan laut dan udara dengan jangkauan deteksi maksimum 110 km. Kapal ini juga dilengkapi radar SP-521 Rakurs system dengan teknologi optis-elektronik yang mampu melacak dan mengunci sasaran yang berada di permukaan laut, udara dan di tepi pantai dengan profil radar amat kontras (radar-contrast shore based target). Radar akan memindai segala macam sasaran dengan cara berputar ke segala penjuru dan dipersenjatai dengan kanon utama AK-176M kaliber 76,2mm yang dapat menembak dengan kecepatan 130 peluru/menit dengan jangkauan 15,7 km.
Rudal permukaan ke permukaan adalah 2x4 KH-35E/Uran E yang dapat menjangkau sasaran di permukaan laut pada jarak maksimum 130 km dengan kecepatan mach 0,8.

Kapal ini dilengkapi dengan sistem pertahanan diri berupa 1 set Palma CIWS yang dapat diperlengkapi dengan rudal anti pesawat udara. Satu set sistim Palma terdiri dari dua kanon gatling otomatik 30 mm AO-18KD berlaras enam dan delapan rudal anti-pesawat 9M337 SOSNA-R. Kanon tersebut berkecepatan tembak 10.000 peluru/menit dan dapat menjangkau sasaran hingga 5 km, sementara rudal dengan kecepatan mach 3,61 dapat menjangkau sasaran pada jarak 8 km dengan ketinggian maksimal 3,5 km.

Dua kanon AK-630M gatling berlaras enam dengan kaliber 30mm turut melengkapi kapal ini yang dapat dipakai untuk sasaran laut dan udara. Kanon kecepatan tembak 5.000 peluru/menit dan mampu menembak dengan jarak jangkau 4–5 km.

Untuk peperangan anti kapal selam, fregat ini dilengkapi dengan dua peluncur torpedo kelas berat 533mm yang masing-masing terdiri dari 2 torpedo. Belum jelas apakah Vietnam akan menggunakan torpedo tipe SET-65KE (electrically-driven homing torpedoes) berdaya jangkau 16 km atau TEST-71-ME-NK (electrically-driven remotely controlled homing torpedoes) berdaya jangkau 20 km.

Versi Rusia fregat ini dilengkapi roket RBU-6000 dengan 12 tabung pelontar amunisi roket RPK-8 kaliber 212 mm, sistim roket ini dapat menghabisi kapal selam dengan jarak maksimal 4,3 km dengan kedalaman 1 km atau torpedo dengan jarak sama pada kedalaman 4 – 10 m.

Untuk melengkapi peperangan anti kapal selam, fregat ini dapat dilengkapi dengan helikopter anti kapal selam berjenis Ka-28 yang telah disiapkan beserta hanggarnya.
Untuk peperangan elektronika, fregat ini dilengkapi pengacak sinyal radar MP-407E (bekerja secara aktif) dan sistim pengecoh PK-10 (bekerja secara pasif) terdiri dari 4x10 peluncur.

Versi Rusia fregat ini juga dilengkapi alat hidroakustik Zmey. Alat pengecoh ini akan menciptakan tiruan medan kebisingan sinyal kapal dan dapat mengacak frekuensi sinyal radar yang diemisikan oleh torpedo atau kapal selam lawan.

Fregat kelas Gepard 3.9

Kamis, 25 September 2014
Posted by akbar yusuf vandim
HMS Hood


Ide untuk membangun Hood setahun sebelum pertempuran laut Jutland terjadi. Tepatnya pada 1913, Dewan Petinggi AL Kerajaan Inggris memutuskan membangun kapal perang baru. Ada dua syarat yang wajib dipatuhi yaitu mampu dipasangi meriam dengan caliber 15 inci (381 mm) dan mampu melaju hingga mencapai 33 knot. Agar kedua syarat dapat dipenuhi maka terpaksa mengorbankan proteksi di bagian atas dek.
Pada awalnya Inggris membangun 4 kapal sejenis namun setelah desain rampung ,London membatalkan niat tersebut. Ssaat membangun Hood merupakan capital-cruiser. Dilihat dari kesaktian yang dimilikinya, kapal ini sebenarnya lebih pantas digolongkan sebagai battleship cepat.

Melawan Bismarck
Hood masih merupakan capital-ship terbesar dan tercepat saat PD II pecah. September 1939 ketika Nazi Jerman melancarkan serangannya ke Polandia, AL Inggris memasang Hood sebagai flag ship dari unit Battlecruiser Squadron, Home Fleet.

Maret 1940 para petinggi AL Inggris memutuskan untuk melakukan sedikit perombakan pada kapal. Selama hamper dua bulan lamanya kapal ini bermukim did ok kering. Perubahan paling mendasar berupa penghapusan seluruh meriam caliber 5,5 inci (140 mm). sebagai gantinya Inggris menyomot tiga buah unit meriam caliber 4 inci (102 mm).

Juni 1940 Hood memasuki jajaran gugus tugas Force-H dan berperan sebagai flag-ship serta dipimpin oleh Vice-Admiral ( setara Laksamana Madya) Somerville dimana ditugasi mengepung armada kapal perang AL Prancis yang berkumpul di Mers-el-Kebir.
Bersama battleship HMS Prince of Wales ditugasi menyergap battleship Jerman yaitu KMS Bismarck dan Prinz Eugen. Pada tanggal 24 Mei 1941 terjadi pertempuran. Hood terkena tembakan dari kapal penjelajah Jerman terlebih dahulu. Selanjutnya tembakan salvo dari KMS Bismarck diluncurkan dari meriam utama menghabisi karir Hood. Lambung kapal terbelah menjadi dua dan menyedot hamper semua awak. Hanya 3 orang yang selamat.

Spesifikasi
Klasifikasi : battlecruiser
Asal : Inggris
Mulai dibangun : 1916
Rampung : 1920
Awak : 1.421 (tahun 1941)
Dimensi : anjang 262,2m ; beam 31,8m ; drought 9,7m
PROPULASI : 24 tabung uap model kompak buatan Yarrow; turbin bergigi tunggal buatan Brown-Curtis; jumlah baling-baling 4 buah
Persenjataan : 8 meriam 15 inci (381 mm) ; 12 meriam 5,5 inci (140 mm) ; 8 meriam dual-purpose 4 inci (102mm) ; 24 meriam anti pesawat 2 pdr : 16 senapan mesin 12,7mm ; 4 tabung torpedo 533mm (21inci)

HMS Hood

Posted by akbar yusuf vandim
Kapal patroli HQ-272 kelas TT400TP

Galangan kapal Hong Ha menyerahkan kapal perang pertama buatan Vietnam ke Angkatan Laut Vietnam (Hải quân nhân dân Việt Nam) di Hai Phong, Senin (16/1) . Kapal patroli meriam kelas TT-400TP pertama diberi nama HQ 272 dipesan oleh Kementrian Pertahanan.

Kapal patroli meriam kelas TT-400TP (TT = Tuần Tra/Patroli; 400 = diatas 400 ton; TP = Tàu Pháo = Kapal meriam) mempunyai empat tugas;
1. Menghancurkan seluruh kapal amphibi dan korvet musuh;
2. Menjaga pangkalan, armada amphibi, armada pendukung operasi kapal dalam pergelaran kekuatan dan menindai ranjau;
3. Menjaga kapal dagang di laut;
4. Serta sebagai kapal pengintai taktis di laut.

Spesifikasi:
1. 1x kanon 76 mm AK-176
2. 1x kanon 30 mm AK - 630,
3. Panjang kapal 54,16 meter;
4. Lebar kapal 9,16 meter;
5. Kecepatan maksimum 32 knot;
6. Waktu operasi 30 hari;
7. Jarak jelajah 2500 mil laut.

Sumber : http://beritahankam.blogspot.com/2012_01_15_archive.html

Kapal patroli HQ-272 kelas TT400TP

Posted by akbar yusuf vandim

Piranha, kapal perang tanpa awak berbahan Nanomaterial


Piranha USV
Kita sudah sering mendengar atau membaca tentang UAV (Unmanned Aerial Vehicle), sebutan yang digunakan untuk pesawat yang mampu beroperasi atau terbang tanpa awak / pilot. Tapi bagaimana dengan USV (Unmanned Surface Vehicle)? Ini sebutan untuk kendaraan permukaan (tanah dan laut) yang mampu berjalan atau bergerak tanpa pengemudi. 

Zyvex mungkin bisa jadi perusahaan pertama di dunia yang mengembangkan kapal tanpa awak (USV) dari bahan Nanomaterial. Perusahaan yang sebenarnya lebih banyak bergerak di bidang nano-teknologi ini telah mengembangkan kapal militer tanpa awak yang dinamakan Piranha. Pada November 2011 lalu, Zyvex mengumumkan bahwa kapal USV rancangan mereka sudah menjadi prototype yang lengkap. Byron Nutley, Vice President pada divisi Zyvex Marine, mengklaim bahwa Piranha adalah satu-satunya kapal di dunia yang terbuat dari bahan Nanomaterial. Tapi apakah Piranha memang sebuah kapal USV yang dilengkapi teknologi tercanggih, dan apa kapal ini memang dibutuhkan oleh pihak Angkatan Laut? 
Menurut info yang beredar, prototype Kapal USV Piranha masih jauh dari konsep awal. Kapal ini masih menggunakan Arovex, serat karbon ringan yang lebih menjanjikan peningkatan efisiensi dibanding bahan aluminium dan fiberglass. Hasil test prototype menunjukkan bahwa kapal dengan panjang 54 kaki ini hanya mengkonsumsi 45,4 liter bahan bakar per jam pada kecepatan jelajah 24 knot (44 km/jam). 75% lebih hemat dibandingkan kapal konvensional yang masih sekelas yang membutuhkan konsumsi bahan bakar 189 liter per jam. Artinya, Piranha mampu menempuh jarak 10 kali lebih jauh dibanding kapal biasa.
Dalam skala prototype yang lebih besar, bagi militer, kendaraan yang mampu menghemat bahan bakar dalam jumlah besar bisa menjadi keunggulan strategis yang signifikan. Terlebih untuk operasional militer jarak jauh. Dalam sebuah pernyataan, Zyvex menyampaikan : "Sejauh ini Angkatan Laut dan pemasok peralatan lebih memilih membangun USV dengan bahan dari karet, aluminium, dan fiberglass. Ini memang pilihan yang bagus, tapi masih kurang. Jika USAF dan RAF dapat mengendalikan pesawat tempur yang terbang di Afganistan dari sebuah ruangan di Nevada, lalu mengapa US Navy dan Coast Guard tidak dapat menyelesaikan misi-misi kapal patrolinya yang sepenuhnya dioperasikan dari jarak jauh?" 
Zyvex Marine juga menyampaikan bahwa mereka tidak hanya menawarkan Piranha kepada pihak Angkatan Laut. Perusahaan ini sudah mengumumkan 2 platform baru yang merupakan pengembangan lebih lanjut dari kapal USV Piranha, yaitu LRV-11 dan LRV-17, yang keduanya akan ditawarkan dalam konfigurasi berawak dan tanpa awak. Tapi masih belum ada penjelasan tentang bentuk dan spesifikasi kedua model kapal itu. 
Pihak Zyvex menegaskan bahwa kapal ultra-modern akan menjadi era baru supremasi Angkatan Laut dimana penggunaan kapal konvensional yang biasanya dalam jumlah besar dinilai terlalu mahal dan juga sudah tidak diinginkan lagi. Kapal ultra-modern dengan kemampuan gerak yang lebih cepat dan gesit lebih dibutuhkan untuk mengantisipasi ancaman yang biasanya datang dari para pembajak, pelarian dan teroris bersenjata. Mungkin karena alasan ini Zyvex hendak menunjukkan bahwa kapal USV produksinya akan sangat berperan dalam pengawalan pelayaran dan patrol jarak jauh. Kapal USV juga dapat digunakan untuk sebuah pengintaian sebelum meluncurkan rudal Helfire atau torpedo Mark 54. 
Zyvex menyampaikan memang banyak misi kendaraan tempur yang masih membutuhkan campur tangan manusia karena banyak orang yang masih menginginkan kondisi seperti itu. Tapi konsep kapal USV Piranha lebih memiliki kecepatan dan kegesitan yang bisa menukar terbuangnya banyak waktu yang dibutuhkan oleh kapal konvensional untuk bisa secepatnya menuju tempat yang dibutuhkan.
Lockheed AH-56 Cheyenne


Designation: Lockheed AH-56 Cheyenne
Classification Type: Attack Helicopter Prototype
Contractor: Lockheed - USA
Country of Origin: United States
Initial Year of Service: 1967
Number Built: 10

Helikopter serang AH-56A yang didesain dan diproduksi Lockheed merupakan upaya gagal untuk memenuhi persyaratan AAFSS (Advance Aerial Fire Support System) AD AS. Diberi nama "Cheyenne", helikopter ini menampilkan desain yang paling maju pada saat itu dan akan sangat dimaklumi kalau helikopter ini gagal karena kekurangsiapan penerapan teknologinya.

AH-56A telah dibuat dalam sepuluh purwarupa. Helikopter ini dibuat dengan satu mesin turbin General Electric yang mampu menghasilkan 3.435 hp yang memutar rotor utama utama dan dua elemen rotor ekor yang berada pada bagian ekor. Perakitan rotor belakang memiliki fitur yang sangat berbeda dengan tiga-blade “pusher”. Desain unik dari keseluruhan sistem memberikan identitas khusus pada helikopter ini.

Helikopter ini dikontrol oleh dua awak yang duduk secara tandem (berdampingan). Sistem roda pendaratannya dapat dimasukkan sepenuhnya dan helikopter ini memiliki pencari jarak-laser terintegrasi yang terhubung ke komputer kontrol penembakan. Salah satu dari elemen-elemen yang lebih unik adalah desain bergulir di sekitar stasiun penembak (gunner) “swiveling XM112” yang terhubung ke turret perut dan hidung.

Turret perut bersenjatakan sebuah meriam otomatis XM52 30mm dan sebuah peluncur granat XM51 40mm atau senapan gatling XM53 7.62mm dapat dipasang di turret-dagu. Tambahan persenjataan-terpasang di sayap termasuk sistem roket anti-tank TOW dan peluncur pod roket XM200 2,75inci.

Purwarupa AH-56 yang pertama terbang pertama kali pada 3 Mei 1967 dan dapat mencapai kecepatan lebih dari 240 mil per jam. Meningkatnya biaya pembuatan, keterlambatan dalam pengembangan dan adanya dua alternatif pesaing yang diproduksi oleh Bell dan Sikorsky memaksa seluruh program dibatalkan secara efektif pada 9 Agustus 1972. Hanya sepuluh purwarupa AH-56 Cheyenne yang dihasilkan yang sebenarnya akan diproduksi secara massal setelah beberapa pengujian penerbangan bermesin dan pengujian senjata.

Pada akhirnya, AD AS menyadari diperlukannya sebuah sistem helikopter yang tidak terlalu rumit dengan kelincahan seperti helikopter kecil. Sistem Kendali Penembakan dan navigasi haruslah mudah dan murah dalam perawatan, dan menyebabkan inisiatif untuk membuat helikopter baru “Advanced Attack Helicopter”(AAH).

Specifications: Lockheed AH-56A Cheyenne

Dimensions:
Length: 60.04ft (18.30m)
Width: 25.92ft (7.90m)
Height: 13.78ft (4.20m)

Performance:
Max Speed: 245mph (395kmh; 213kts)
Max Range: 629miles (1,013km)
Climb Rate: 3,420 ft/min (1,042 m/min)
Ceiling: 25,997ft (7,924m; 4.9miles)

Structure:
Accommodation: 2
Hardpoints: 4
Empty Weight: 11,718lbs (5,315kg)
MTOW: 16,995lbs (7,709kg)

Power:
Engine(s): 1 x General Electric T64-GE-16 turbine engine generating 3,435hp.

Weapons Suite:
1 x XM51 40mm grenade launcher OR 1 x XM53 7.62mm gatling minigun mounted in a chin-turret assembly.
1 x XM52 30mm automatic cannon mounted in a belly turret.

Fuselage mounted armaments were to include:
TOW anti-tank missiles
XM200 2.75 inch rocket launcher pods

Operators:
the United States of America

Lockheed AH-56 Cheyenne

Posted by akbar yusuf vandim
Boeing / Sikorsky RAH-66 Comanche

Helikopter RAH-66 Comanche adalah helikopter masa depan Angkatan Perang AS untuk menggantikan helikopter UH-1, AH-1 Cobra, OH-6 dan OH-58 Kiowa. RAH-66 didesain sebagai helikopter “stealth” pertama di dunia dan diklasifikasikan sebagai “light attack”. Heli ini beroperasi dengan internal bay berisi misil anti-udara dan anti-lapisan baja serta menggunakan material “stealth” untuk mengaburkannya dari radar musuh. Heli ini akan menjadi heli terbaik di dunia.

Purwarupa heli ini pertama kali terbang pada 1996 dan purwarupa kedua pada akhir 1990an. Garis tajam pada desain heli ini diambil dari pesawat F-117 dan mempunyai sudut tajam dan “cross section” radar yang rendah.

RAH-66 mempunyai sistem rotor dengan 5-daun (blade) besar dan rotor yang lebih kecil pada bagian ekornya yang terlindung, seperti halnya heli Gazelle milik Perancis. Heli ini mempunyai penyimpanan senjata internal dan sayap (“terpotong”) opsional yang memungkinkan stabilitas penambahan persenjataan, dengan resiko (jika sayap opsional dipasang) akan lebih terdeteksi oleh radar. Persenjataan standar heli ini adalah meriam General Electric tiga barel 20mm dalam sebuah sistem turret Giat. Pilot dan co-pilot (gunner) duduk bersebelahan pada kokpit dengan visibilitas yang baik.

Sistem penerbangan dan kontrol pada RAH-66 terdiri dari kontrol “helmet-mounted”, kontrol siklik “sidestick”, display peta 3D, sistem fly-by-wire dengan sebuah fitur “triple redundancy”, pelacak Laser dan FLIR serta radar gelombang milimeter yang ditiru Apache Longbow.

Pada simulasi medan pertempuran, sistem RAH-66 akan sangat mendukung pertempuran dengan menembak kendaraan lapis baja dan pesawat musuh pada jarak jangkaunya. Akan tetapi proyek heli ini dibatalkan oleh AS karena dana pengembangan yang terlalu besar.

Specifications:
Mode: Boeing / Sikorsky RAH-66 Comanche
Length: 43.31 ft ; 13.20 m
Width: 0.00 ft ; 0.00 m
Height: 11.06 ft ; 3.37 m
Engine(s): 2 x LHTEC T800-LHT-801 turboshafts generating 1,563 shp each and driving a five blade main rotor with an eight blade fan-in-fin shrouded tail rotor.
Empty Weight: 20,503 lbs ; 9,300 kg
MTOW: 12,359 lbs ; 5,606 kg
Max Speed: 201 mph ; 324 km/h ; 175 kts
Max Range: 1,382 miles ; 2,224 km
Ceiling: 14,980 ft ; 4,566 m ; 2.8 miles
Climb Rate: 895 ft/min (272.8 m/min)
Hardpoints: 4 (2 x internal bays; 2 x optional wing stubs)
Crew:2
Operators the United States of America

Armament:
1 x 20mm Cannon
6 x Hellfire anti-tank missiles (held in two internal bays)
6 x Stinger air-to-air missiles (held in two internal bays)
4 x Hellfire anti-tank missiles (on optional external wing stubs)
8 x Stinger air-to-air missiles (on optional external wing stubs)

Boeing / Sikorsky RAH-66 Comanche

Posted by akbar yusuf vandim
Denel AH-2 Rooivalk.

Rooivalk merupakan helicopter serbu dengan dua awak tempat duduk berkonfigurasi tandem dengan tempat duduk bagian belakang agak tinggi dari tempat duduk depan.

Awak senjata (WSA-Weapon System Officer) berposisi pada kursi depan sedangkan pilot pada kursi belakang.

Kursi helicopter Rooivalk dirancang dan dibuat dengan sangat kokoh (crashworthy) serta berlapis baja yang dilengkapi dengan perankat tongkat kendali gabungan (HOCAS-hands-on collective and stick).

Untuk awak helicopter Rooivalk ini dilengkapi dengan helmet khusus yang dibuat oleh pabrik Thales Avionic, Perancis. Helmet ini dilengkapi dengan perangkat display khusus (helmet-mounted sight display) versi TopOwl. Dengan demikian helmet ini berfungsi sebagai head-up display untuk informasi pada pola terbang NOE (Nap-on-the-earth).

Selain itu Helmet TopOwl juga terintegrasi dengan system senjata yang dibawa oleh pesawat seperti cannon, atau rudal udara-ke-udara. TopOwl juga terintegrasi dengan Gen IV image intensifier dan FLIR serta efektif untuk digunakan baik pada siang maupun malam hari.

Kerangka pesawat Rooivalk dirancang untuk tidak menimbulkan kerusakan serius apabila mengalami jatuh (crash-resistant structure) serta low radar, visual, infrared dan acoustic signature.

Kendali penembakan dan sarana observasi. Dalam melakukan kegiatan deteksi, akuisisi dan penjejakan terhadap target helicopter ini dilengkapi dengan sarana otpik yang dipasang pada bagian hidung pesawat, perangkat optic ini disebut sebatai TDATS (Target Detection Acquisition and Tracking System).

TDATS dilengkapi dengan low-level television sensor, FLIR, autotracker, laser rangefinder dan laser designator. Sehingga dalam pembidikan persenjataan yang dibawa akan lebih akurat.

Perangkat Navigasi dan Komunikasi. Perangkat navigasi yang dibawa oleh helicopter ini termasuk pada kategori yang mutakhir, termasuk diantaranya Doppler Radar Velocity Sensor, GPS 8 kanal dari Thales Avionic, Heading Sensor Unit (HSU) dan Air Data Unit (ADU).

Perangkat komunikasinya terdiri dari dua transceiver VHF/UHF dengan frequensi FM, AM, dan pemroses pembicaraan digital, satu radio HF dengan frequency hopping dan secure voice, data channel serta IFF transponder.

Kemampuan Serang. Helikopter yang dirancang untuk menghadapi target darat berupa kendaraan lapis baja maupun bunker pertahanan serta untuk menghadapi helicopter tempur lawan berkemampuan jelajah dengan kecepatan maksimum 150 knot dengan kemampuan gerak menanjak keudara sekitar 2.620 kaki per menit pada posisi dua mesin hidup, atau 1.280 kaki per menit dengan satu mesin.

Perangkat Navigasi dan Komunikasi. Perangkat navigasi yang dibawa oleh helicopter ini termasuk pada kategori yang mutakhir, termasuk diantaranya Doppler Radar Velocity Sensor, GPS 8 kanal dari Thales Avionic, Heading Sensor Unit (HSU) dan Air Data Unit (ADU).

Perangkat komunikasinya terdiri dari dua transceiver VHF/UHF dengan frequensi FM, AM, dan pemroses pembicaraan digital, satu radio HF dengan frequency hopping dan secure voice, data channel serta IFF transponder.

Kemampuan Serang. Helikopter yang dirancang untuk menghadapi target darat berupa kendaraan lapis baja maupun bunker pertahanan serta untuk menghadapi helicopter tempur lawan berkemampuan jelajah dengan kecepatan maksimum 150 knot dengan kemampuan gerak menanjak keudara sekitar 2.620 kaki per menit pada posisi dua mesin hidup, atau 1.280 kaki per menit dengan satu mesin.

Hover ceiling maksimum (OGE - out of ground effect) mencapai ketinggian 17.900 kaki, sedangkan untuk IGE - in ground effect, mencapai 19.200 kaki.
Mesin penggerak yang digunakan adalah dua buah mesin Makila 1K2 yang menghasilkan take-off rating sebesar 2.243 kW, sedangkan dengan satu mesin (super continence) akan menghasilkan kekuatan 1.660 kW.

Persenjataan.  ROOIVALK dapat membawa berbagai jenis system persenjataan yang disesuaikan dengan misi tempur yang akan dilaksanakannya.  Pesawat ini memiliki kelincahan maneuver yang tinggi sehingga dengan persenjataan yang dibawanya dapat menghadapi multiple target baik pada jarak pendek maupun jarak jauh.

Perlengkapan persenjataan antara lain pada bagian bawah hidung pesawat berupa kanon, dan berbagai jenis munisi pada bagian bawah sayapnya.

Kanon yang dibawa berupa kanon F2 dual-feed, gas operated caliber 20mm dengan kemampuan penembakan rata-rata 740 butir peluru per menit dan kecepatan peluru 1.100 meter per detik.  Kotak amunisi (ammunition bins) berkapasitas 700 butir siap tembak.

Persenjataan misil yang dibawa antara lain misile anti-armour jarak jauh jenis Mokopa yang dibuat oleh Divisi Kentron dari Denel.  Mokopa merupakan semi-active laser seeker head dilengkapi dengan hulu ledak tandem, dengan jarak tembak efektif mencapai 8,5 km.  ROOIVALK juga dapat dilengkapi dengan misil Hellfire atau HOT 3.

Selain itu juga dapat membawa empat misil udara-ke-udara seperti V3C Darter dari Denel Aerospace Systems, atau Mistral dari MBDA.  V3C Darter memiliki sarana pencari dengan infrared serta penentuan target dengan menggunakan helmet awak pesawat.  Untuk persenjataan roket digunakan roket caliber 70mm jenis FFAR buatan Belgia.
Data Teknis.
Panjang keseluruhan pesawat (rotor utama ke rotor ekor) : 18.732 mm
Diameter rotor utama                                    : 15.580 mm
Berat take-off maksimum                                 :  8.750 kg
Bobot operasi minimum                                   :  5.730 kg
Bahan baker internal maksimum                           :  1.469 kg

Denel AH-2 Rooivalk.

Posted by akbar yusuf vandim

// Copyright © Fallen Blog //Anime-Note//Powered by Blogger // Designed by Johanes Djogan //